MEMBANGGAKAN! Muhammad Irsyad Arrafif raih medali Emas dan Gelar 'Percasi Master' di Kejurnas catur ke-51 Serang Banten
![]() |
| Muhammad Irsyad Arrafif dengan medali,sertifikat juaranya |
SERANG, BANTEN — Pecatur muda dari Manyar Gresik, Muhammad Irsyad Arrafif, menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 di Serang, Banten. Irsyad menjadi yang terbaik setelah mengumpulkan 7 poin dari sembilan babak pertandingan.
Pertandingan berlangsung selama empat hari dengan nomor catur klasik, menggunakan kontrol waktu 90 menit ditambah increment 30 detik untuk setiap langkah. Format tersebut menuntut kemampuan kalkulasi, konsentrasi, pengelolaan waktu, serta ketahanan mental para peserta.
Berdasarkan hasil pertandingan, Irsyad yang memulai kompetisi dari peringkat awal 33 berhasil menyelesaikan turnamen di peringkat pertama. Ia membukukan enam kemenangan, dua hasil remis, dan satu kekalahan, sekaligus mencatat performance rating 1620.
![]() |
| Sebelum bertanding selalu berdoa dan yakin untuk bisa meraih nomer satu |
Enam Menang, Dua Remis, Satu Kalah
Perjalanan Irsyad menuju medali emas dimulai dengan kemenangan pada babak pertama atas Arkan Banin Dayyan dari DKI Jakarta. Pada babak kedua, ia kembali meraih poin penuh setelah mengalahkan Ghifari Syafiulla Ahsan Al dari Jawa Barat.
Performa positif berlanjut pada babak ketiga. Irsyad mengalahkan Azizi Farha Aqlan dari Jawa Timur dan mengantongi tiga kemenangan beruntun pada awal turnamen.
Pada babak keempat, Irsyad mendapatkan perlawanan ketat dari Senja Cahaya Surya Putranto Lintang asal Jawa Barat. Pertandingan berakhir remis sehingga masing-masing pemain memperoleh setengah poin.
Irsyad kembali ke jalur kemenangan pada babak kelima setelah menundukkan Manaf Abrisam Haidar dari DKI Jakarta.
Memasuki babak keenam, Irsyad kembali bermain remis, kali ini saat menghadapi Liu Kaneki dari D.I. Yogyakarta. Hasil tersebut membuat persaingan menuju papan atas semakin ketat.
Ujian terberat datang pada babak ketujuh. Irsyad harus menerima satu-satunya kekalahan sepanjang turnamen ketika menghadapi Ezra Hotasagema Imanuel dari Jambi.
Kekalahan tersebut tidak membuat Irsyad kehilangan fokus. Ia mampu bangkit pada babak kedelapan dengan mengalahkan Ghaisan Arshaka Raffasya dari DKI Jakarta.
Momentum kebangkitan itu berlanjut pada pertandingan terakhir. Di babak kesembilan, Irsyad berhasil mengalahkan Josafat William Marpaung Geyio dari DKI Jakarta.
Hasil tersebut menyempurnakan perjalanan Irsyad menjadi enam kemenangan, dua remis, dan satu kekalahan, dengan total 7 poin dari sembilan pertandingan. Perolehan itu mengantarkannya menempati peringkat pertama dan meraih medali emas.
Berawal dari Hanya Tahu Langkah Kuda
Di balik keberhasilan tersebut tersimpan perjalanan panjang yang dirasakan langsung oleh keluarga.
Menurut penuturan Novita Kusuma Dewi selaku orang tuanya,sebelumnya tidak pernah membayangkan catur akan membawa Irsyad sampai pada persaingan tingkat nasional. Ketika pertama kali mengenal permainan tersebut, pemahaman Irsyad tentang catur masih sangat sederhana.
Ia bahkan awalnya hanya mengetahui bahwa buah kuda bergerak membentuk huruf “L”.
Dari pengetahuan sederhana itulah proses belajar dimulai. Sedikit demi sedikit Irsyad mengenal fungsi setiap buah, memahami aturan permainan, hingga kemudian mulai mengikuti latihan dan berbagai pertandingan.
Perkembangan tersebut turut mengubah rutinitas keluarga. Orang tua yang sebelumnya tidak membayangkan akan begitu dekat dengan dunia kompetisi catur kini hampir setiap pekan harus riwa-riwi mendampingi Irsyad mengikuti pertandingan di berbagai kota.
Di sela-sela agenda turnamen, proses pembinaan tetap berjalan. Irsyad rutin berlatih setiap hari di basecamp Sekolah Catur Bidak Pratama untuk terus meningkatkan kemampuan teknik maupun mental bertanding.
Latihan yang dilakukan secara konsisten serta pengalaman mengikuti berbagai kompetisi secara bertahap membentuk keberanian dan kematangan Irsyad ketika berhadapan dengan lawan-lawan dari berbagai daerah.

Berpose bersama Gubernur Banten dan istrinya
Harapan Sempat Menipis

Perjalanan di Kejurnas ke-51 pun tidak selalu berjalan sesuai harapan. Menurut orang tuanya, keyakinan untuk meraih hasil terbaik sempat menipis ketika persaingan memasuki fase akhir. Terlebih setelah Irsyad mengalami kekalahan.
Berdasarkan tabel hasil pertandingan, kekalahan tersebut terjadi pada babak ketujuh, saat Irsyad menghadapi Ezra Hotasagema Imanuel dari Jambi.
Kondisi itu cukup menguras harapan keluarga. Sebab, dalam persaingan yang ketat, kehilangan satu poin pada babak-babak akhir dapat memengaruhi peluang seorang pemain untuk menjadi juara.
Namun, Irsyad mampu memberikan respons positif.
Alih-alih kehilangan kepercayaan diri setelah kekalahan tersebut, ia bangkit dan memenangkan dua pertandingan terakhir. Raffasya dari DKI Jakarta dikalahkan pada babak kedelapan, kemudian Geyio, juga dari DKI Jakarta, ditundukkan pada babak kesembilan.
Dua kemenangan beruntun tersebut menjadi penutup penting perjalanan Irsyad menuju podium tertinggi.
![]() |
| Muhammad Irsyad Arrafif saat menerima pengalungan medali Emas di atas podium |
Bukan Sekadar meraih Medali tetapi meraih gelar catur "Percasi Master'
Keberhasilan Muhammad Irsyad Arrafif meraih emas di Kejurnas kali ini sekaligus menobatkan dirinya untuk mendapatkan gelar sebagai "Percasi Master' PM. Dengan demikian apabila Irsyad bertanding di turnamen - turnamen yang akan di ikuti maka di depan namanya akan di sematkan gelarnya PM.Muhammad Irsyad Arrafif.
Di balik sukses 7 poin dari sembilan babak terdapat proses latihan yang dijalani secara konsisten, pengalaman bertanding dari satu turnamen ke turnamen berikutnya, pendampingan keluarga, serta proses pembinaan yang terus dilakukan di Sekolah Catur Bidak Pratama.
Irsyad tercatat lahir pada 2020. Pada usia yang masih sangat muda, ia telah menghadapi pertandingan catur klasik yang membutuhkan konsentrasi dan ketahanan berpikir dalam durasi panjang.
Keberhasilannya juga menunjukkan satu pelajaran penting dalam olahraga prestasi: satu kekalahan tidak selalu menentukan hasil akhir sebuah turnamen.
Irsyad membuktikannya. Setelah menelan kekalahan pada babak ketujuh, ia mampu mengendalikan tekanan, bangkit, dan meraih dua kemenangan pada dua pertandingan terakhir.
Prestasi tersebut menjadi salah satu pijakan dalam perjalanan Irsyad yang masih panjang sebagai pecatur muda. Bagi keluarga, hasil di Serang sekaligus menjadi buah dari waktu, tenaga, perjalanan, serta konsistensi mendampingi proses latihan dan pertandingan sang anak.



Komentar
Posting Komentar